NUNUKAN – Yayasan Ibnu Sina Kabupaten Nunukan menindaklanjuti hasil studi komparasi ke Buahati Islamic School Jakarta dengan menggelar rapat kerja bersama jajaran pengurus yayasan, kepala sekolah dan perwakilan guru Sekolah Islam Terpadu (SIT) Ibnu Sina, Senin (17/8/2026).
Rapat kerja menjadi forum untuk menginventarisasi dan merumuskan berbagai praktik baik yang diperoleh selama studi tiru, untuk selanjutnya dipilih mana yang dapat diadopsi, dimodifikasi, diinovasi maupun dikembangkan sesuai karakter dan kebutuhan SIT Ibnu Sina Nunukan.
Hadir Ketua Dewan Pembina Yayasan Ibnu Sina Nunukan Muhammad Nasir, S.Pi., M.M., anggota Dewan Pembina Eko Sugiharto, S.Hut., Ketua Yayasan Oji Raharjo, S.P., Bendahara Yayasan M. Rusdi, Kepala Bidang Pembinaan SDM dr. Baharullah, anggota Bidang Pembinaan SDM Ima Yuli Astanti, S.Pd., jajaran pengurus yayasan, seluruh kepala sekolah serta perwakilan guru.
*Muhammad Nasir : Studi Tiru Harus Menghasilkan Perubahan*
Muhammad Nasir dalam sambutannya sekaligus membuka rapat kerja menegaskan bahwa keberhasilan studi banding tidak diukur dari banyaknya hal menarik yang dilihat, melainkan dari perubahan yang diwujudkan setelah kembali ke sekolah.
“Ukuran keberhasilan studi banding adalah apa yang berubah setelah kita pulang. Kalau sistem menjadi lebih baik, guru semakin berkualitas, pembinaan siswa semakin kuat dan pelayanan pendidikan meningkat, maka studi tiru itu memberikan manfaat,” ujar Nasir.
Menurutnya, Ibnu Sina tidak perlu meniru seluruh program Buahati. Praktik yang baik harus diseleksi, disesuaikan dan bahkan dikembangkan menjadi inovasi sendiri.
“Kita tidak ingin menjadi Buahati versi Nunukan. Kita belajar dari yang terbaik, mengambil yang relevan, kemudian memodifikasi dan mengembangkannya. Harapan kita, suatu saat sekolah lain juga datang ke Nunukan untuk belajar dari Ibnu Sina,” tegasnya.
*Semua Jenjang Sampaikan Gagasan*
Ketua Yayasan Oji Raharjo, S.P. selanjutnya memimpin rapat dan memberikan kesempatan kepada masing-masing jenjang untuk mempresentasikan hasil studi tiru.
Kepala SMAIT Ibnu Sina Boarding School Ariffudin, S.E., S.Pd., Kepala SMPIT Ibnu Sina, Syafaruddin, S.Pi, Kepala SDIT Hasmawati, S.Si., dan Kepala TKIT Suriyani, S.Pd., bersama perwakilan guru masing-masing jenjang menyampaikan berbagai masukan dan gagasan.
Presentasi berkembang menjadi diskusi yang dinamis. Setiap jenjang tidak hanya menyampaikan apa yang dilihat di Buahati, tetapi juga mengkritisi apakah program tersebut sesuai dengan kondisi Ibnu Sina, perlu dimodifikasi, atau justru dapat dikembangkan menjadi inovasi baru.
“Semua masukan sangat berharga. Kita ingin setiap unit mempunyai tindak lanjut. Tidak semuanya harus dilaksanakan sekaligus, tetapi harus ada prioritas, penanggung jawab dan evaluasinya,” ujar Oji Raharjo.
*Karakter, Bahasa Inggris hingga Rapor Guru*
Sejumlah praktik mendapat perhatian, antara lain pembentukan karakter dan kepribadian Islami siswa, budaya tertib dan disiplin, pembinaan siswa saleh dan berprestasi, serta pengembangan kelas Bahasa Inggris dari jenjang TKIT hingga SMAIT.
Sistem evaluasi juga menjadi pembahasan menarik. Dari sekitar 16 jenis rapor atau instrumen evaluasi yang dipaparkan dalam studi tiru, salah satu yang mendapat perhatian adalah rapor guru.
Rapor guru dinilai dapat menjadi instrumen mengukur kedisiplinan, profesionalisme, kompetensi, kualitas pembelajaran, tanggung jawab, pengembangan diri dan kontribusi guru terhadap kemajuan sekolah.
Hasil evaluasi tersebut dapat menjadi salah satu dasar penghargaan dan peningkatan kesejahteraan berbasis kinerja, sekaligus instrumen pembinaan.
“Yang berkinerja baik harus kita apresiasi. Yang masih kurang kita bina dan beri kesempatan memperbaiki diri. Tetapi secara bertahap lembaga juga harus mempunyai standar untuk menilai kesesuaian dan keberlanjutan pengabdian setiap SDM di Ibnu Sina,” kata Muhammad Nasir.
*Baharullah dan Ima Yuli Astanti Tekankan Penguatan SDM*
Kepala Bidang Pembinaan SDM Yayasan Ibnu Sina, dr. Baharullah, menilai peningkatan kualitas pendidikan tidak mungkin dilepaskan dari peningkatan kualitas orang-orang yang menjalankan sistem pendidikan tersebut.
Menurutnya, pengembangan kompetensi guru harus dilakukan secara terencana dan berkelanjutan, mulai dari pembinaan keislaman, pedagogik, profesionalisme, kedisiplinan hingga kemampuan beradaptasi dengan perkembangan pendidikan.
Anggota Bidang Pembinaan SDM, Ima Yuli Astanti, S.Pd., juga menekankan pentingnya membangun budaya belajar di kalangan guru.
“Guru tidak boleh berhenti belajar. Tantangan anak-anak terus berubah sehingga peningkatan kompetensi, evaluasi dan pembinaan guru juga harus terus berjalan. Hasil studi tiru ini menjadi bahan yang sangat baik untuk memperkuat sistem pengembangan SDM kita,” ujarnya.
*M. Rusdi: Yayasan Harus Membangun Kemandirian Ekonomi*
Bendahara Yayasan Ibnu Sina M. Rusdi menyoroti perlunya pengembangan bina usaha dan fundraising yayasan.
Menurutnya, pengembangan pendidikan dalam jangka panjang membutuhkan fondasi keuangan yang kuat sehingga yayasan tidak terlalu bergantung pada dana yang berasal dari aktivitas sekolah atau dana IBS.
“Yayasan perlu lebih serius mengembangkan unit usaha dan fundraising yang produktif. Kalau sumber pendanaan yayasan semakin beragam dan sehat, kemampuan kita untuk mengembangkan sekolah, meningkatkan kesejahteraan SDM dan memperbaiki fasilitas pendidikan juga semakin besar,” ujar M. Rusdi.
Potensi unit usaha produktif, kemitraan, fundraising, donasi pendidikan hingga wakaf produktif menjadi bagian yang akan dikaji lebih lanjut.
*Perkuat Identitas Ibnu Sina*
Rapat juga membahas perlunya mempertegas identitas, keunggulan dan pembeda SIT Ibnu Sina dibandingkan lembaga pendidikan lainnya.
“Kita berada di perbatasan, tetapi kualitas pendidikan kita tidak boleh berada di pinggiran. Kita harus berani mempunyai standar tinggi dan keunggulan yang jelas,” kata Syafaruddin, S.Pi kepsek SMPIT dalam ajang diskusi.
Seluruh rekomendasi akhirnya dipetakan menjadi tiga kelompok, yakni hal yang dapat langsung dilaksanakan, program yang memerlukan perencanaan dan koordinasi, serta program yang membutuhkan persiapan dan pengerjaan secara bertahap.
Antusiasme peserta terlihat hingga akhir kegiatan. Pengurus yayasan, kepala sekolah dan guru aktif menyampaikan pandangan, kritik serta gagasan untuk pengembangan Ibnu Sina.
Setelah berlangsung hingga malam hari, rapat kerja ditutup pada pukul 22.30 WITA, dengan komitmen menjadikan hasil studi tiru sebagai awal proses perbaikan berkelanjutan dan pembentukan budaya mutu baru di SIT Ibnu Sina Nunukan.

