Libur Panjang Jadi Alarm, Tata Kelola Wisata Pesisir Berau Perlu Diperkuat

BERAU, Headlineterkini.id – Lonjakan wisatawan yang memadati kawasan pesisir Berau saat libur panjang bukan sekadar cerita ramainya kunjungan. Di balik itu, muncul sinyal kuat bahwa tata kelola pariwisata masih perlu diperkuat, terutama dalam hal distribusi informasi dan kesiapan layanan di lapangan.

Sejumlah wisatawan dilaporkan kesulitan mendapatkan penginapan hingga harus mencari alternatif darurat, termasuk bermalam di fasilitas umum. Kondisi ini menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk DPRD Berau.

Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto, menilai persoalan tersebut tidak bisa dilihat hanya dari sisi ketersediaan fasilitas. Ia menegaskan bahwa faktor perencanaan perjalanan oleh wisatawan juga turut berperan besar.

“Lonjakan ini memang tinggi dan di luar prediksi banyak pihak. Tapi kita juga melihat masih banyak wisatawan yang datang tanpa memastikan akomodasi lebih dulu,” ujarnya.

Menurutnya, destinasi pesisir seperti Bidukbiduk dan sekitarnya sudah lama menjadi magnet wisata, terutama saat libur panjang. Karena itu, ia mengimbau wisatawan agar lebih matang dalam merencanakan perjalanan, termasuk melakukan reservasi sejak awal.

Di sisi lain, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Samsiah Nawir, mengungkapkan bahwa secara kapasitas, akomodasi di kawasan pesisir sebenarnya cukup memadai.

Ia menyebut terdapat puluhan homestay dan resort yang jika ditotal mampu menyediakan ratusan kamar. Bahkan, saat terjadi lonjakan kunjungan, masyarakat setempat kerap membuka penginapan tambahan secara mandiri.

“Kurang lebih ada 78 unit akomodasi. Ditambah lagi warga juga sering menyediakan homestay dadakan. Hanya saja, informasi ini belum tersampaikan dengan baik ke wisatawan,” jelasnya.

Menurutnya, celah utama justru terletak pada minimnya sistem informasi yang terintegrasi. Banyak wisatawan tidak mengetahui opsi penginapan alternatif yang sebenarnya masih tersedia di tingkat masyarakat.

“Kalau komunikasi berjalan baik, wisatawan bisa diarahkan ke pilihan lain. Ini yang menjadi bahan evaluasi kami ke depan,” tambahnya.

Terkait adanya wisatawan yang bermalam di masjid, ia menilai hal tersebut lebih sebagai situasi darurat. Meski demikian, pihaknya tetap berupaya memberikan bantuan dasar sebagai bentuk kepedulian.

“Kalau memang terpaksa, kami pastikan ada bantuan minimal seperti air minum dan kebutuhan dasar,” katanya.

Ke depan, Disbudpar Berau berkomitmen melakukan pembenahan, tidak hanya dari sisi penambahan akomodasi, tetapi juga penguatan sistem informasi dan pengelolaan wisata berbasis masyarakat.

“Langkah ini sangat penting, agar lonjakan wisatawan tidak lagi menimbulkan persoalan serupa, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga lokal,” ujarnya.

DPRD dan Disbudpar pun sepakat, momentum ini harus menjadi bahan evaluasi bersama agar pariwisata Berau berkembang lebih tertata, adaptif, dan nyaman bagi wisatawan maupun masyarakat setempat.(Adv)

Spread the love

Tinggalkan Balasan